IJAZAH
Pendidikan gratis cenderung menjadi komoditas politik, dongeng masalalu yang masih sering didengungkan di masa sekarang dan "kemungkinan" juga di masa datang.
Jika memaknai pendidikan secara luas, kata "gratis" masih layak untuk disandangkan. Kau bisa secara gratis mendapatkan pendidikan dimana-mana, mulai dari pendidikan alam, pendidikan sosial hingga pendidikan sexsual.
Namun, jika maknanya disempitkan sedikit dengan memberikan batas-batas dinding yang disebut sekolahan maka akan banyak hal miris yang kamu temukan.
Di balik dinding-dinding ini kau akan diperkenalkan dengan setan bernama Ijazah yang akan melenakanmu dari tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Jika kau sekarang dalam masa sekolah ataupun dalam masa kuliah, ku sarankan untuk tidak memunafikkan diri dengan mengatakan "aku tak butuh ijazah sekolah, tak butuh ijazah kuliah, aku sekolah untuk mencari ilmu saja". Bukankah itu yang kau cari? Di negeri setengah surga ini nasibmu digantungkan pada sederetan angka yang tertera di dalamnya, illa man rohima robbah, kecuali orang-orang yang dikasihi Tuhannya
Memang tak butuh ijazah untuk meraih predikat sebagai petani ataupun buruh tani handal, yang kau harus lakukan adalah merumat sawahmu dengan baik dan benar. Tak butuh Ijazah untuk menjadi babu atau istilah kerennya sekarang asisten rumahtangga yang baik, yang kau harus lakukan adalah menyeboki pantat bayi majikanmu dan menyuapinya hingga kenyang. Tak butuh ijazah untuk menjabat sebagai pekerja sexs yang profesional, yang harus kau lakukan adalah melayani para pembuat undang-undang yang datang serta siapapun yang membutuhkan dari sela kakimu kepuasan.
Tapi, untuk menjadi guru, untuk menjadi dokter, untuk menjadi polisi, untuk menjadi camat, bahkan untuk menjadi kasir di minimarket pun kau akan diminta menunjukkan Ijazah terahirmu.
Dan Ijazah-ijazah itu harus kamu tebus juga dengan mahluk Tuhan yang bernama uang, sekali lagi "uang".
UU No 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional jangan dipolitisi.
Petani ingin anaknya bisa terus sekolah, tamat dan dapat ijazah
asisten RT ingin anaknya bisa terus sekolah, tamat, dan dapat ijazah.
pelacurpun mungkin begitu, mungkin.
darkwriter99.blogger.com
Tampilkan postingan dengan label Hukum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hukum. Tampilkan semua postingan
Selasa, 03 Februari 2015
Jumat, 09 Januari 2015
KAU DEWI, BUKAN PELACUR- (DEWI KEADILAN DEWI JUSTITIA)
Dalam pekat ku berjalan
lunglai, gontai, tak bertenaga
Di sudut jalan kutemukan lentera dengan Dewi cantik yang bersimpuh memegangnya
Pakaian putih nya lusuh, penuh bercak darah, tercabik dimana-mana
Dengan iba dan gemetar ku bertanya
,”Duhai dewi, dimana kau taruh mahkota keadilan?”
Tak menjawab dia menunjuk
Tersentak kaget ku berteriak lantang, sangat lantang
“pelacur kau !
mahkota keadilan lazim kau junjung tinggi dan kau pasangkan di kepala muliamu,
bukan di celah sempit vaginamu
ataupun di lubang kotor anusmu !”.
gemetar dewi menjawab
“aku menjaga dan melinduginya
Dari tangan kotor begundal-begundal brengsek
Dan bajingan tengik yang bernafsu merebutnya,
Begini yang ku bisa”.
Aku tersedak,
kupegang bahunya lembut dan berkata
,”bukan begini caranya dewi…
niatmu mulia, namun caramu hina.
ayo, letakkan mahkota keadilan di kepala,
agar rakyatmu tahu jika ia masih ada.
Aku akan setia disampingmu,
Mengawal, menjagadan memastikan amanmu bersamanya
Dengan sisa kemampuan yang ku punya
Maafkan aku
Kau dewi,
Bukan pelacur.
Amir El Huda
Fb :Amir El Huda
Email :musafir685@gmail.com
Phone :085649214893
Pin :75ee1ff9
Langganan:
Komentar (Atom)
